Minggu, 27 November 2011

Pahlawan Tak Dikenal



Oleh: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

(Siasat Th IX, No. 442 1955)


''Pertama kali saya mendengar puisi ini saat acara La Sastra di sekolah saya, mungkin setahun atau dua tahun lalu. Mereka (adik kelas saya) membawakannya dalam bentuk musikalisasi puisi yang menurut saya sangat menyentuh.

Puisi ini untuk memperingati peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Untuk para pahlawan yang gugur dalam perempuran. Sebelum November berakhir.''

Hujan Bulan Juni


karya : Sapardi Djoko Darmono


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Advent-1


Lilin Advent pertama
@gereja HKBP Bogor
27 Desember 2011

Sabtu, 26 November 2011




Kamu mampu menjadikanku pujangga malam ini

Hanya lewat perjumpaan yang sesaat
Lewat pertemuan yang tak terduga
Lewat beberapa menit yang bagiku begitu berarti
Menghadirkan sejuta pesona, gejolak rasa

Tidak, kamu memang tak memandangku
Kamu tak menyapaku, tidak
Kamu hanya hadir
Dan itu cukup bagiku

Kamu mampu menjadikanku pujangga malam ini

Merangkaikan kata-kata
Puitis romantis (menurutku)
Tapi sekaligus sarkatis dan miris
Yang hanya berporos pada kamu

Karena lagi-lagi, aku hanya mampu memandangmu
Mengagumi sosok indahmu, tanpa mampu melakukan apapun
Kamu begitu tak terjangkau, jauh

Ya, ini masih saja tentang jatuh cinta diam-diam
Jatuh cinta sendirian

Kamu mampu menjadikanku pujangga malam ini
Dan mungkin juga malam-malam selanjutnya

Karena kamu ada

01Oktober2011 22.47

Kamu




Aku jatuh cinta

Bukan pada seorang ksatria gagah perkasa
Bukan pula pangeran tampan berkuda putih

Bukan juga pada seorang pujangga yang pandai merangkai kata

Atau pria romantis yang pandai bergitar manis


Aku jatuh cinta
Pada kamu

Ya, kamu yang terlihat acuh
Kamu yang tak pernah memandangku

Tapi yang kupandangi tanpa kau tahu
Kamu yang mampu menggetarkan hatiku

Walau tanpa kata yang terucap merdu

Kamu, yang hanya kamu
21Nov2011

petir


Sore itu langit terlihat mendung. Pertanda sesaat lagi hujan akan menyapa bumi dan memuaskan dahaga sang bumi yang sejak tadi terpapar sinar matahari. Mendung semakin pekat, angin berhembus. Tetesan air itu benar-benar telah jatuh ke bumi. Hawa dingin mulai terasa. Tiba-tiba seberkas cahaya muncul di depan jendela kamarku, disusul bunyi gemuruh yang cukup keras. Tak berhenti disitu, gemuruh itu terus bersahut-sahutan, to be continue, seakan akan di langit sana sedang terjadi peperangan antara para penghuni langit.

Sesungguhnya suasana seperti di atas bukanlah hal yang asing lagi dimataku. Toh, setiap sore aku menikmatinya walau tidak menantikannya. Hujan disertai gemuruh dan petir yang berkilat-kilat. Bukan lagi hal yang asing di kawasan kampus IPB Darmaga.
Sore hari saat hujan, di asrama


Jumat, 25 November 2011

Gombalism

A : Aku punya dua kata buat kamu
B : Apa?
A : Aku sayang kamu.
B : Ih, itu kan tiga kata.
A : Dua kok. Kan aku sama kamu, satu.