Minggu, 15 April 2012

aku hujan dan kamu matahari

Siang ini, di kortan, selesai mengerjakan laporan fisika yang sungguh membuatku pusing dan ngejelimet aku meminjam laptop temanku dan browsing memanfaatkan fasilitas wifi yang disediakan kampusku.
Browsing lagu, cek email, hmmm apa lagi ya. Buka facebook ga bisa, karena emang facebook tidak bisa diakses pada jam kuliah begini.
Akhirnya dengan iseng aku membuka google dan mengetikan kata 'hujan aku kamu' pada mesin pencari itu. Dan muncullah berbagai postingan yg memuat 'hujan aku kamu'.
Aku membuka salah satunya dan menemukan sebuah tulisan yang cukup menarik

Saat kita bertemu,
kamu masih terlihat samar dibalik hamparan langit. Sedangkan aku masih berupa gumpalan awan kelabu.
Aku dan kamu ada memang tidak untuk beriringan,
Kamu pergi kemudian aku datang,
aku datang kemudian kamu hilang.
Tetapi aku dan kamu malah saling menatap tajam.
Hingga akhirnya disaat yang terindah kita dipadukan.
Aku punya gerimis yang selalu membasuhmu dengan santun ketika kamu bersinar terlalu pijar.
Begitu juga kamu yang selalu siap menghangatkanku dengan lembut, saat terlalu lama aku bermain dengan dingin.
Apa kamu pernah melihat hujan dibawah sinar matahari? Itu indah,
Cahaya terangnya memendarkan kerlipan warna yang cantik pada butir air yang jatuh ke bumi.
Dan setelah itu pelangi dengan berani melukiskan lengkungan indah warnanya diatas bentangan langit luas. Diatasnya kita menari, berbagi hangat dan dingin.
Kamu matahari dan aku hujan.

diposting oleh : Ilonk Sr27 (13 April 2012)
http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2012/04/13/kamu-matahari-dan-aku-hujan/


How amazing, ketika ada hujan dan matahari muncul pelangi. Indah.

Lalu terlintas dibenakku, bagaimanakah rasanya menjadi hujan yang jatuh cinta pada matahari. Hujan yang datang ketika matahari pergi, dan matahari yang muncul ketika hujan pergi.
Tidak pernah berdampingan, hanya mungkin berpapasan.
Sedih. Mungkinkah ini akan jadi kisah 'cinta tak berbalas'?
Tanyakan saja pada hujan dan matahari :)