Hujan dan pagi = 'mager' alias males gerakPagi hari ketika hujan turun. Rasanya ingin sekali tetap berada di tempat tidur, berlindung di bawah hangatnyanya selimut. Atau kalaupun aku harus beranjak dari situasi ini, aku hanya ingin menggantinya dengan membaca novel atau pun menarikan jari-jariku diatas laptop sambil menyesap secangkir teh hangat. Nikmat :)
Hujan dan siang = pemaksaanJika hujan turun disiang hari, lain lagi kisahnya. Ini akan menjadi sebuah pemaksaan. Ketika sedang beraktifitas di luar rumah, tiba-tiba hujan turun. Ingin rasanya segera mengakhiri segala aktifitas dan hanya duduk memandangi hujan, berharap dia segera pergi. Namun apa daya, aktifitasku harus tetap berjalan. Aku tidak bisa memaksa hujan untuk berhenti, maka aku memaksa diriku untuk tetap beraktifitas.
Hujan dan malam = melankolisHujan dimalam hari ketika aku hendak beranjak tidur. Sepi. Tiba-tiba saja aku jadi merasa melankolis. Merasa sendiri. Memikirkan banyak hal. Tersbersit berbagai kenangan.
Hujan dan menulis = inspirasiMenulis, entah mengapa paling enak dilakukan ketika hujan turun. Mungkinkah butiran dan gemericik suaranya membawa turun sang 'inspirasi'? Ataukah hujan mampu menggamblangkan isi hati? Aku tak tahu, yang pasti aku menyukai menulis dikala hujan.
Hujan dan melamun = kamuKetika hujan turun entah mengapa dengan mudahnya kamu terbersit di otakku. Kamu lalu lalang dengan bebasnya dalam pikiranku. Padahal aku tidak sedang memikirkanmu, aku hanya sedang melamun. Dan tiba-tiba saja 'pop' kamu muncul tanpa dikomando.
Hujan dan cinta = romantismeKata orang hujan itu romantis. Berdua bersama orang yang kita cintai menikmati hujan itu romantis. Benarkah? Silakan nilai sendiri.
Hujan itu menyimpan banyak rasa, tergantung dengan siapa dan bagaimana kita melewati dan menikmatinya.
Flora, 14 januari 2012
ketika hujan tanpa henti mengguyur Kota Bogor