Selasa, 21 Agustus 2012

Untuk Kamu Yang Selalu Kutitip Rindu

Hai, kamu yang selalu kutitpkan rindu

Lewat hari, lewat waktu
Lewat pagi, lewat senja
Lewat gelap, lewat malam
Lewat angin, lewat hujan

Sampaikah?
Apa kabarmu? Baikkah?
Adakah sepercik rindu yang kamu titipkan juga untukku?
Jika tidak, adakah setetes saja?

Maafkan aku jika selalu saja banyak pertanyaan tentang kamu
Bukan mauku, tapi rasa ini menuntutku, rindu ini memaksaku
Walaupun bibirku kelu, bahkan ketika kita jumpa
Tanya dan rasa yang hanya mampu kusimpan sendiri
Atau kutitipkan lewat hari, waktu, pagi, senja, gelap, malam, angin dan hujan
Untuk menyampaikannya langsung, aku tetap tak punya nyali

Hari ini kita bertemu. Jujur aku tak mampu menutupi bahagiaku. Senyum tersungging manis dibibirku. Menanti kamu yang kuharap segera datang. Ramai, disini banyak orang. Menyapaku, mengajakku tertawa, berbincang bernostalgia. Aku bahagia, tapi aku tetap menantimu, wahai kamu yang selalu kutitip rindu.

Hingga akhirnya kamu datang, sapaanmu, suaramu, wajahmu, gerakmu, genggaman tanganmu yang sesaat, tatapmu, kamu. Aaaaah, yang sangat ku rindu. Disini ramai, aku bahagia. Menatap mereka, tertawa bersama, bernostalgia, tapi hanya kamu yang hatiku tatap.

Berdua kita berjalan beriringan, berbincang, berdekatan. Menatapmu, mendengar ceritamu, menatapi setiap gerakmu, kamu. Ah, aku ingin lebih lama denganmu.

Tapi aku resah.
Kutatap punggungmu, inginnya matamu, tapi aku tak bernyali. Adakah rindu seperti rinduku tersimpan padamu?
Kuamati gerakmu, inginnya dekatmu, tapi lagi-lagi aku tak bernyali. Adakah rasa seperti rasaku tersimpan padamu?

Tak kutemukan. Aku lemas, lunglai, ingin menangis. Tawamu untukku sama seperti untuk mereka, gesturmu untukku sama seperti untuk mereka, tatapmu untukku sama seperti untuk mereka, adakah juga tatap dan rindumu untukku sama seperti untuk mereka?
Akukah yang tak bisa membacamu? Atau kamu yang terlalu pandai menutupinya? Ataukah memang itu sungguh adanya, tak ada tempat spesial bagiku, sedikit pun, dihatimu.

Waktu terus berputar, memisahkan kita semua, dan menciptakan kenangan baru yang akan kita nostalgiakan lagi dilain waktu.

Kamu pun berlalu. Jabat tangan terakhir hari ini. Kata terakhir hari ini darimu. Bahkan aku tak mampu menatapmu, mengucapkan sepatah kata pun aku tak sanggup. Aku ingin moment ini cepat berlalu. Aku tak bisa jika harus menatap punggungmu yang menjauh. Lebih baik aku yang pergi lebih dulu, melangkah tanpa menatapmu. Menahan dadaku yang sesak dan tangisku yang nyaris meledak. Kamu masih tak menatapku lebih, ternyata tak ada rindu untukku. Kenyataan itu yang meremukan dadaku.

Aku pergi, kamu berlalu, bersama asa yang tinggal sejumput, bahwa mungkin kamu akan memanggilku, atau paling tidak menatap punggungku sampai aku menghilang dari pandangmu. Aku berjalan terus, bersama malam yang kian pekat. Menggigit bibir, agar tangisku tak tumpah ruah.
Haruskah sampai disini saja kukirimkan rindu-rindu itu?

Atau mungkin ….

Ijinkan aku menyimpan ‘kita’ dalam versiku
Aku dan kamu yang mungkin saling merindu
Biarkan aku menyimpan ‘kita’ dalam benakku
Aku dan kamu yang berbagi cerita
Bolehkan aku menyimpan ‘kita’ dalam hatiku
Aku dan kamu yang berjalan beriringan

Ataukah harus ku kubur saja semua rasa ini
Harus ku buang saja semua angan ini
Harus ku lenyapkan saja semua cerita kita yang coba kurajut ini

Bukan, bukan karena aku tak mau menyimpannya, melanjutkannya
Tapi karena aku begitu lelah, merindu seorang diri

Wahai kamu, yang selalu kutitipkan rindu
Haruskah ku ucapkan selamat tinggal?


Malam, 11.30 /17082012 hanyasekedarcerita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar