
Saya baru saja membaca sebuah buku karya Raditya Dika berjudul 'Marmut Merah Jambu'. Kalau boleh jujur ini pertama kalinya saya membaca buku karangan Raditya Dika hingga tuntas. Entah mengapa selama ini saya merasa kurang suka membaca buku-buka karyanya. Entah karena saya tidak suka genrenya, atau setiap saya ingin membaca bukunya bukanlah disaat yang tepat. Saya sendiri tidak tahu.
Saat mulai membaca buku 'Marmut Merah Jambu' ini pun awalnya saya merasa kurang sreg. Masa baru juga mulai sudah disugguhin kalimat yang kurang enak dibaca ya walaupun untuk konyol-konyolan. Namun semakin lama saya semakin terhanyut dalam komedi yang dirangkai oleh Raditya Dika. Walaupun tidak bisa saya pungkiri terkadang saya masih mengerutkan dahi, atau pun menyerengitkan hidung saat saya membaca gaya berkomedinya yang rada-rada cablak dan asalan. Setelah selesai membaca, paradigma saya tentang buku-buku Raditya Dika berubah. Tadinya saya pikir tulisannya hanya berisi komedi-komedi kosong yang tak bermakna, hanya sekedar lucu-lucuan saja. Namun ternyata saya menemukan hal lain.
Banyak hal. Namun kali ini saya akan mengulas salah-satu bab di buku ini yang berjudul 'orang yang jatuh cinta diam-diam'. Dalam bab ini saya menemukan sebuah kalimat yang dikutip Raditya Dika dari Oscar Wide : seperti dua buah kapal yang berpapasan sewaktu badai, kita telah bersilang jalan satu sama lain; tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah kata pun, kita tidak punya apa pun untuk dikatakan.
Saya rasa kita semua pasti pernah merasakan yang namanya cinta diam-diam. Cinta yang dimulai dengan diam-diam, dijalani diam-diam dan diakhiri diam-diam pula.
Ketika kita jatuh cinta inginnya kita mengutarakan apa yang kita rasakan. Namun apa daya jika ternyata kita hanya bisa berdiam diri, mengagumi sosoknya yang mungkin keren, cool, athletis, tampan, sikapnya yang easygoing, atau bisa apa saja yang membuat kita tertarik padanya. Mengamatinya, memperhatikan setiap gerak tubuhnya, kebiasaannya. Memandanginya dari kejauhan. Melihatnya tertawa bersama teman-temannya yang tak jarang membuat bibir kita tanpa sadar tertarik keatas, tersenyum. Melihatnya bermain gitar, bermain basket, atau apapun yang membuat auranya terpancar dan membuat kita makin terpesona. Bahkan melihatnya bergandengan tangan dengan orang lain yang membuat hati kita teriris dan berharap bahwa orang lain yang berada disampingnya saat itu adalah kita. Memimpikan saat-saat indah yang akan kita lalui seandainya dia adalah pacar kita. Menatapinya, seakan hanya dialah sosok yang eksis di bumi ini, yang hanya kita lakukan dari tempat yang tersembunyi atau dari balik punggungnya. Kita berusaha berdiri diruang lingkup, dimana mata kita bisa terus menatapi sosoknya. Namun ketika dia berada didekat kita atau ketika mata kita beradu pandang dengannya, kita justru pura-pura cuek, seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal di dalam hati kita bersorak-sorai, dag-dig-dug gak karuan.
Waktu terus berlalu, namun tak ada yang berubah. Kita tetaplah seorang secret admirer, yang jatuh cinta diam-diam. Sang pemimpi yang akhirnya harus bangun dari mimpi-mimpi indahnya, dan tersadar bahwa semua itu adalah semu. Keberanian untuk mengutarakan perasaan yang tak kunjung datang. hingga kita merasa lelah berharap. Bagi para wanita beda lagi persoalannya, mereka merasa tak mungkin mengutarakan perasaan terlebih dahulu karena hal itu tidaklah biasa. Maka wanita hanya bisa menunggu (apakah benar seperti ini?). Menunggu, menanti. sebuah penantian yang sia-sia karena pada akhirnya mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa kita tak bisa menggapainya, menggapai cinta. Kita harus menerima bahwa terkadang kenyataan berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa seperti yang selalu mereka lakukan, jatuh cinta sendirian. Ironis.
Cinta yang dimulai dengan diam-diam, dijalani diam-diam dan diakhiri diam-diam pula.
Saat mulai membaca buku 'Marmut Merah Jambu' ini pun awalnya saya merasa kurang sreg. Masa baru juga mulai sudah disugguhin kalimat yang kurang enak dibaca ya walaupun untuk konyol-konyolan. Namun semakin lama saya semakin terhanyut dalam komedi yang dirangkai oleh Raditya Dika. Walaupun tidak bisa saya pungkiri terkadang saya masih mengerutkan dahi, atau pun menyerengitkan hidung saat saya membaca gaya berkomedinya yang rada-rada cablak dan asalan. Setelah selesai membaca, paradigma saya tentang buku-buku Raditya Dika berubah. Tadinya saya pikir tulisannya hanya berisi komedi-komedi kosong yang tak bermakna, hanya sekedar lucu-lucuan saja. Namun ternyata saya menemukan hal lain.
Banyak hal. Namun kali ini saya akan mengulas salah-satu bab di buku ini yang berjudul 'orang yang jatuh cinta diam-diam'. Dalam bab ini saya menemukan sebuah kalimat yang dikutip Raditya Dika dari Oscar Wide : seperti dua buah kapal yang berpapasan sewaktu badai, kita telah bersilang jalan satu sama lain; tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah kata pun, kita tidak punya apa pun untuk dikatakan.
Saya rasa kita semua pasti pernah merasakan yang namanya cinta diam-diam. Cinta yang dimulai dengan diam-diam, dijalani diam-diam dan diakhiri diam-diam pula.
Ketika kita jatuh cinta inginnya kita mengutarakan apa yang kita rasakan. Namun apa daya jika ternyata kita hanya bisa berdiam diri, mengagumi sosoknya yang mungkin keren, cool, athletis, tampan, sikapnya yang easygoing, atau bisa apa saja yang membuat kita tertarik padanya. Mengamatinya, memperhatikan setiap gerak tubuhnya, kebiasaannya. Memandanginya dari kejauhan. Melihatnya tertawa bersama teman-temannya yang tak jarang membuat bibir kita tanpa sadar tertarik keatas, tersenyum. Melihatnya bermain gitar, bermain basket, atau apapun yang membuat auranya terpancar dan membuat kita makin terpesona. Bahkan melihatnya bergandengan tangan dengan orang lain yang membuat hati kita teriris dan berharap bahwa orang lain yang berada disampingnya saat itu adalah kita. Memimpikan saat-saat indah yang akan kita lalui seandainya dia adalah pacar kita. Menatapinya, seakan hanya dialah sosok yang eksis di bumi ini, yang hanya kita lakukan dari tempat yang tersembunyi atau dari balik punggungnya. Kita berusaha berdiri diruang lingkup, dimana mata kita bisa terus menatapi sosoknya. Namun ketika dia berada didekat kita atau ketika mata kita beradu pandang dengannya, kita justru pura-pura cuek, seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal di dalam hati kita bersorak-sorai, dag-dig-dug gak karuan.
Waktu terus berlalu, namun tak ada yang berubah. Kita tetaplah seorang secret admirer, yang jatuh cinta diam-diam. Sang pemimpi yang akhirnya harus bangun dari mimpi-mimpi indahnya, dan tersadar bahwa semua itu adalah semu. Keberanian untuk mengutarakan perasaan yang tak kunjung datang. hingga kita merasa lelah berharap. Bagi para wanita beda lagi persoalannya, mereka merasa tak mungkin mengutarakan perasaan terlebih dahulu karena hal itu tidaklah biasa. Maka wanita hanya bisa menunggu (apakah benar seperti ini?). Menunggu, menanti. sebuah penantian yang sia-sia karena pada akhirnya mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa kita tak bisa menggapainya, menggapai cinta. Kita harus menerima bahwa terkadang kenyataan berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa seperti yang selalu mereka lakukan, jatuh cinta sendirian. Ironis.
Cinta yang dimulai dengan diam-diam, dijalani diam-diam dan diakhiri diam-diam pula.
this is for you and about you ‘B’

Tidak ada komentar:
Posting Komentar