
"Aku tak bisa menemukanmu!" air mata gadis itu sudah merebak dipelupuk mata.
"Aku terus mencarimu, dalam hari-hari yang kulalui, dalam waktu yang terus bergulir.
"Aku terus mencarimu, dalam pagi yang baru hingga malam akhirnya menjelang.
"Aku terus mencarimu, dalam nyata dan mimpiku.
"Aku terus mencarimu, dalam tawa dan tangisku.
"Aku terus mencarimu, dalam sosok pria itu. Sosok yang sama, di mana dulu aku menemukanmu. Dalam sorot mata tajam yang dulu menatapku ketika kita bicara. Tapi kini sorot mata itu tak pernah lagi untukku.
"Aku terus mencari, menggali hingga ke dasar hatiku, sampai ke ujung lorong waktu masa lalu.
"Dan akhirnya ketika aku menemukanmu, kamu ada dalam kepingan kenangan. Ya, kepingan. Karena kenangan itu tak lagi utuh, dia telah hancur, terserak. Dan bersama rinduku yang tak mampu ku bendung, aku mengumpulkan keping demi keping kenangan yang pecah terhempas waktu dan entah apa lagi, aku tak mengerti. Menjadi satu kenangan utuh yang nyatanya tak mampu memuaskan dahagaku akan dirimu. Tapi justru malah membawa sang rindu lebih dalam merasukiku. Sang rindu yang selama ini susah payah aku usir dari hidupku setiap kali aku memikirkanmu, setiap kali aku menatap punggungmu yang menjauh, setiap kali aku bertemu kamu, yang bukan kamu.
"Aku terus mencarimu, tapi aku tak lagi menemukanmu.
"Kamu hilang, menyisakan rasa yang mereka sebut RINDU." dan kini air mata gadis itu benar-benar tumpah tak tertahan lagi. Karena semua telah berbeda, lelaki itu berubah. Tidak lagi seperti yang gadis itu kenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar